Beranda » Wisata Masjid » 10 Masjid Terindah di Indonesia yang Bisa Kamu Kunjungi

Indonesia punya banyak masjid indah yang bisa dibanggakan. Masjid-masjid tersebut bisa kamu kunjungi sebagai tempat wisata religi atau sekadar untuk rekreasi dan hunting foto. Apa aja, ya, masjidnya?

1. Masjid Rahmatan Lil-Alamin, Indramayu

Kalimat Rahmatan Lil Alamin mungkin sudah nggak asing di kalangan umat Muslim. Rahmatan Lil Alamin yang artinya rahmat bagi seluruh alam merupakan misi Tuhan melalui Rasul. Nama itulah yang kemudian ditabalkan oleh sang grand architect DR. Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang pada sebuah masjid yang berada di Komplek Kampus Al-Zaytun, Sandrem, Gantar, Indramayu ini.

Sesuai namanya, perwujudan arsitektur bangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin harus sesuai dengan nama agung yang disandangnya. Konsep Rahmatan Lil Alamin diwujudkan dalam bentuk delapan penjuru mata angin. Mulai dari tapak persegi delapan, bentuk fisik bangunan yang juga segi delapan, dan jumlah kubah kecil yang mengitari kubah besar yang juga berjumlah delapan.

Kesemuanya melambangkan delapan penjuru mata angin. Bentuk segi delapan bangunan Masjid jika dilihat dari sisi manapun baik utara, selatan, barat, timur, barat laut, barat daya, timur laut, dan tenggara akan seperti tampak depan keseluruhannya. Tidak akan terlihat belakang ataupun sudut seperti bangunan yang dibuat dengan persegi empat.

masjid Al-Zaytun

2. Masjid Istiqlal, Jakarta 

Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Soekarno. Presiden pertama Republik Indonesia ini melakukan pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal yang dilakukan pada 24 Agustus 1951 silam. Sedangkan, rancangan bangunan masjidnya dirancang oleh Frederich Silaban yang beragama Kristen.

Kompleks Masjid Istiqlal dibangun di atas lahan bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka. Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dan dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200 ribu jamaah.

Selain digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid ini digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. Masyarakat non Muslim juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun demikian bagian yang boleh dikunjungi kaum non Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.

Masjid-Istiqlal-Jakarta

3. Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya didirikan pada tanggal 4 Agustus 1995 atas gagasan Wali Kota Surabaya pada masa itu, H. Soenarto Soemoprawiro. Pembangunan masjid ini ditandai dengan peletakan sebuah batu pertama yang dilakukan oleh Wakil Presiden Indonesia, Try Sutrisno. Namun, karena kondisi negara sedang krisis, pembangunan masjid ini terpaksa dihentikan sementara waktu. Kemudian, pada tahun 1999, masjid ini kembali dibangun dan sampai selesai tahun 2001.

Dilihat secara fisik, luas dari bangunan beserta fasilitas penunjang yang ada di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya adalah 22.300 meter persegi dengan rincian panjang sekitar 147 meter dan lebar 128 meter. Bentuk dari atap Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya terdiri dari satu buah kubah besar yang juga didukung dengan empat buah kubah kecil yang berbentuk limasan serta memiliki satu menara.

Keunikan dari bentuk kubah yang dimiliki Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya ini terletak pada bentuk kubah yang hampir mirip dengan setengah telur dan 1,5 layer yang mempunyai tinggi sekitar 27 meter. Untuk menutup kubah masjid ini, digunakan sebuah produk yang juga dipergunakan pada beberapa masjid raya seperti halnya Masjid Raya Selangor yang ada di Syah Alam, Malaysia. Ciri lain dari masjid raksasa ini adalah ada pintu masuk ke dalam ruangan masjid yang begitu tinggi dan besar.

Masjid Nasional Al-Akbar

4. Masjid Dian Al Mahri, Depok

Tahun 2006, Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih terkenal dengan sebutan Masjid Kubah Emas. Saat ini Majid Kubah Emas Dian Al Mahri menjadi salah satu potensi wisata menarik yang dimiliki Depok. Masjid Kubah Emas berdiri di atas lahan seluas 70 hektar, sedangkan luas masjid adalah 8.000 meter persegi. Bangunan masjid sendiri terdiri atas ruang utama, ruang mezanin, halaman dalam, selasar atas, dan ruangan fungsional lainnya.

Diperkirakan, Masjid Dian Al Mahri mampu menampung 15 ribu jamaah untuk melaksanakan shalat, serta 20 ribu untuk majelis taklim. Konsep umum bangunan mengikuti tipologi dengan ciri kubah, minaret, halaman dalam, dan penggunaan hiasan dekoratif. Luas halaman dalam masjid berukuran 45×57 meter.

Keberadaan Masjid Dian Al Mahri sangat mendunia. Banyaknya pengunjung yang datang memberikan keberkahan tersendiri bagi warga sekitar. Selain menambah rasa kagum dan keimanan, warga sekitar mengaku mendapat rejeki dari wisatawan yang datang, terutama saat liburan sekolah atau hari besar. Menjelang bulan puasa, masjid ini juga selalu ramai.

Masjid Dian Al Mahri

5. Masjid Islamic Centre, Samarinda

Masjid Islamic Center yang merupakan masjid terbesar kedua di Asia setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Masjid ini terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda. Dengan latar depan berupa tepian sungai Mahakam, masjid ini terlihat menawan. Masjid Islamic Centre dilengkapi dengan area parkir yang luas dan lapang. Area parkirnya bisa menampung 591 mobil dan 800 buah sepeda motor. Di area parkir itu pula, tersedia toilet pria dan wanita untuk para jamaah. Di lantai tersebut pula terdapat ground water tank sebagai penampungan air bersih untuk toilet dan tempat wudhu.

Dari area parkir bagian kanan pintu gerbang, berdiri menara utama setinggi 99 Meter dengan kubahnya yang besar. Menara utama memiliki bangunan 15 lantai. Masing-masing lantai memiliki tinggi rata-rata 6 meter. Yang menakjubkan, dinding luar menara dikelilingi lafadz Asmaul Husna yang dilapis batu granit, dengan teknik pembuatan water jet. Menaranya diilhami dari Masjid Nabawi Madinah, sedangkan Kubahnya diilhami dari Masjid Haghia Sophia Istanbul.

Selain menara utama, pada keempat sudut bangunan dilengkapi dengan menara yang disebut menara sudut satu, dua, tiga, dan empat. Tingginya 66 meter. Bagian atas menara yang disebut makara menggunakan material kuningan ketok. Untuk mencapai lantai paling atas dari menara tersebut harus menggunakan tangga.

Masjid Islamic Centre

6. Masjid Raya Makassar

Masjid ini memang sudah didesain besar dan megah sejak awal pendiriannya. Konon seorang jurnalis asing yang mengunjungi masjid ini pada tahun 1949 menulis bahwa inilah masjid terbesar di di Asia Tenggara saat itu. Bangunan induknya saja dapat menampung hingga 10 ribu jamaah, bahkan jika digabung dengan halaman masjid dapat mencapai 50 ribu jamaah.

Masjid Raya Makassar dirancang oleh arsitek Muhammad Soebardjo setelah memenangi sayembara yang digelar panitia pembangunan Masjid Raya. Saat itu, Soebardjo menampilkan bentuk menyerupai badan pesawat terbang. Ini terinspirasi dari pengamatannya terhadap masyarakat Makassar yang tengah dihantui ketakutan karena pesawat pengebom B-29 yang selalu melayang-layang di atas kota.

Selang 30 tahun kemudian, Masjid Raya Makassar sudah mulai rapuh dan bocor di beberapa bagian, terutama di atap dan kubah. Beberapa kali renovasi parsial sempat dilakukan, namun tidak menghasilkan bangunan yang solid, kokoh, dan optimal. Di Februari 2009, perombakan besar-besaran atas bangunan masjid ini pun dimulai dengan konsep dasar untuk menjadikan bangunan Masjid Raya Makassar menjadi lebih kokoh, megah, indah, dan modern. Hasil pembaruan itu dapat dinikmati sekarang. Masjid yang megah dan indah ini sekilas mirip dengan masjid dari Timur Tengah karena memiliki sentuhan arsitektur mediteranian.

Masjid Raya Makassar

7. Masjid At-Tin, Jakarta

Masjid At-Tin dibangun atas prakarsa anak cucu Soeharto dan didedikasikan kepada Fatimah Siti Hartinah (Ibu Tien) yang merupakan istri Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia. Terinspirasi dari surat Al-quran, At-Tin bermakna makanan yang penuh gizi, manis, dan menyehatkan. Masjid yang mampu menampung sekira 10000 jamaah itu pun diresmikan pada tahun 1999, setelah Ibu Tien meninggal dunia.

Selain terinsiparasi dari surat At-Tin tentunya, nama tersebut disematkan kepada Almarhumah Ibu Tien sebagai rasa cinta anak cucunya kepada beliau yang diwujudkan dalam sebuah bangunan masjid. Masjid yang diarsiteki oleh Fauzan Ma’mun dan Ahmad Ma’mun ini sangat berbeda dengan masjid pada umumnya. Perpaduan budaya nusantara dan modern makin menambah kemegahan dan nilai religius.

Ruang utama masjid yang dikelilingi taman dan serambi ini sangat luas, sehingga memungkinkan masyarakat untuk menikmati pemandangannya yang indah. Ditambah lagi, ada pepohonan rindang sebagai tempat berteduh yang bisa menambah ademnya suasana masjid. Kubah besar dan empat menara tinggi  di sana dilapisi marmer berwarna coklat abu-abu.

Masjid-At-Tin-Jakarta

8. Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid milik negara yang berada di jantung daerah istimewa Aceh. Dalam buku itu disebutkan bahwa masjid itu didirikan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 (1022 Hijriah). Dengan kata lain, umur masjid ini sekarang telah mencapai 404 tahun.

Namun, dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang mendirikan masjid ini adalah Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tahun 1875 (1292 Hijriah). Sayangnya, masjid ini kemudian terbakar habis akibat penyerangan tentara Belanda dalam ekspedisinya pada bulan April 1873 (Safar 1290 Hijriyah).

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman terbakar, yaitu pada pertengahan Maret 1877 (Safar 1294 Hijriah). Masjid ini kemudian dibangun kembali di lokasi yang sama. Pembangunan Masjid Raya dilaksanakan oleh Mayor Vander, selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan pada 9 Oktober 1879 (13 Syawal 1296 Hijriah) oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Proses pembangunan masjid kemudian mulai dilaksanakan pada tahun 1881 dengan hanya satu kubah.

Masjid Raya Baiturrahman

9. Masjid Agung An-Nur, Pekan Baru

Masjid Agung An-Nur dibangun pada tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968. Dilihat dari sisi bangunannya, Masjid Agung An-Nur banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab, dan India. Masjid Agung An-Nur disebut disebut sebagai Taj Mahalnya propinsi Riau. Bila kita amati arsitektur Masjid Agung An-Nur, masjid ini memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal.

Arsitektur Masjid Agung An-Nur ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 meter. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 jamaah. Bangunan Masjid Agung An-Nur terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk shalat, tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan.

Masjid Agung An-Nur mempunyai tiga buah tangga, yang terdiri dari satu buah tangga di bagian muka dan dua buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu, bagian bawah terdiri dari empat buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan Masjid Agung An-Nur ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta pada tahun 1970. Masjid Agung An-Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP, dan SMA. Juga perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain, seperti aula dan ruang pertemuan, ruang kelas, dan ruang ruang kantor.

Masjid Agung An-Nur

10. Masjid Raya Al-Mashun, Medan

Mesjid Raya Al-Mashun berdiri nggak jauh dari Istana Maimun. Dibangun pada tahun 1906, semasa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid, masjid ini masih berfungsi seperti semula, yaitu melayani umat Muslim di Medan yang ingin beribadah. Kubahnya yang pipih dan berhiaskan bulan sabit di bagian puncak, menandakan gaya Moor yang dianutnya.

Seperti masjid lainnya, sebuah menara yang menjulang tinggi terlihat menambah kemegahan dan religiusnya masjid ini. Aplikasi lukisan cat minyak berupa bunga-bunga dan tumbuhan yang berkelok-kelok di dinding, plafon, dan tiang-tiang kokoh di bagian dalam masjid ini makin menunjukkan tingginya nilai seni masjid ini.

Masjid Raya Al-Mashun merupakan kebanggaan warga Medan. Seiring perkembangan zaman, kemudian terbentuk sebuah pemukiman baru di sebelah masjid yang disebut Kota Maksum, sehingga jamaah masjid makin ramai. Saat ini, selain menjadi pusat ibadah kaum Muslim di kota Medan, Masjid al Mashun juga menjadi daerah tujuan wisata yang dikunjungi para turis domestik dan mancanegara. Salah satu kelebihan masjid ini adalah masjid ini masih dalam bentuknya yang asli dan belum mengalami perubahan spesifik.

Masjid Raya Al-Mashun

Untuk berwisata ke 10 masjid indah tersebut, tentunya kamu harus mengunjungi dulu kota-kota tersebut.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.